Sabtu, 01 September 2012

FFcangkangtanpajiwabyHanHyewon@blogspot.comFFcangkangtanpajiwabyHanHyewon@gmail.com 

Title      :   Shell without a soul
Genre   :   Sad
Cast      :   Lee Minhye
                  Kim Jiwon
                  Cho Chasoo


Minhye PoV
                Hari ini adalah hari pertamaku di sekolah baruku, yaitu SMA Shinhwa. Aku sendirian disini karena kakak-kakakku tidak bersekolah disini. Sedih rasanya. Mengapa mereka harus meninggalkanku disini? Tapi, sudahlah... pasti ada alasannya mengapa takdirku di temapatkan disini.
                “Bosaaaaaaan!”, teriakku. “Aku tidak ingin sekolah disini! Aku ingin kembali... Eon! Tolong aku!!!”, keluhku. Tanpa kusadari semua mata sudah tertuju padaku. Inilah kebiasaan yang tidak bisa kuhindari. Aku sering memalukan diriku sendiri.
***
Suatu hari. Seperti biasanya, aku duduk sambil mendengarkan lagu sendirian. Semua orang didini membuka forum meraka sendiri. Sungguh memuakkan! Akupun mulai mengingat kejadian dulu, saat aku masih bias bersama dengan eonni-eonni tersayangku. “Hiks”, kataku sambil menundukkan kepala. Tiba-tiba ada seseorang yang dating padaku. Dia menawarkan secangkir kopi hangat padaku. Aku bingung melihatnya. “apa orang ini indigo? Dari mana dia bias tahu kalau saat ini aku sedang kedinginan?”, kataku dalam hati. Dengan tampang bodoh aku terus memandanginya. Dengan mulut sedikit ternganga aku terus bertanya-tanya dalam hati. “Hei! Sudahlah. Ambil saja ini. Aku tahu cuaca di luar saat ini sangat dingin”, katanya. “gleg”. Aku semakin shock melihatnya. Apa dia benar-benar tahu tenta apa yang sedang aku pikirkan saat ini? Ah, sudahlah… Yang penting sekarang  aku bisa mendapat secangkir kopi hangat, gratisss!!!
Kamipun saling memperkenalkan diri satu sama lain. Namanya Kim Jiwon. Dia cantik, tinggi, baik, dan sudah pastinya pintar. Kamipun saling bertukar cerita mengenai idolaku masing-masing. Saat mendengar ceritaku, dia terlihat bingung. Apa dia tidak mengerti dengan apa yang aku bicarakan  ya? Ah! Sudahlah! Aku memang tidak bisa menahan mulutku ini. Satu hal lagi yang tidak bisa kuhindari, yaitu saat bercerita mengenai Super Junior. Aku seperti mobil tanpa kendali.
Semenjak saat itu kami selalu bersama. Aku merasa nyaman saat bersamanya. Menyenangkan sekali. Dengan sabarnya dia mau mendengar tangisanku, saat aku sedang merindukan eonniku.
***

Apado amureochi anheun cheok
nunmuri heulleodo gamchuneun beop
maeumhan jjok geugose namgyeonoko
amuil eopdaneundeusi utneun beop
heeojineun bangbeop
maeumi ireoke tto jeomuljyo
sumanheun miryeondeul tto heomuljyo
dasi jiwogagetjyo adeukhaejigetjyo
uri seoro ijeogagetjyo
nae uimieomneun haruga tto
jinagagetjyo
o duldoeomneun urisarang
eopdeonirijyo
bogosipda haedo dasin bolsu eopgetjyo
apado chamayagetjyo
heeojineun bangbeobijyo
neoeomneun haruga iksukhajyo
naeireun jogeumdeo pyeonhagetjyo
jeomjeom ijeogagetjyo
eojjeom saenggangnagetjyo joheun
chueokdeulman namgetjyo
nae uimieomneun haruga tto
jinagagetjyo(The Way to Break up – Kyuhyun)

                Pagi ini hujan kembali datang. Sebenarnya aku tidak begitu suka dengan hujan. Tapi Jiwon sudah merubah segalanya. Bahkan sekarang aku sangat menyukai hujan. Dengan Headphone yang terpasang di telingaku, aku berjalan kesana-kemari untuk membersihkan ruang kelasku. Tiba-tiba Jiwon datang mengagetkanku. “Minhye-ah! Aku punya berita bagus.”, katanya dari kejauhan. “Benarkah?  Apa?”, kataku sambil meletakkan sapu. “semalam aku bermimpi kamu pacaran sama kim Heechul. Pertama-tama kita lolos ikut audisi girlband. Kita berangkat ke seoul. Di seoul kita bertemu dengan Super Junior dan diberikan kesempatan untuk konser bersama mereka. Tak disangka, diakhir acara Heechul menembakmu”, kata Jiwon dengan penuh semangat. “Jeongmal? Haaahhhh..”, kataku sambil melompat-lompat. Seharian penuh aku terus tersenyum. Aku senang, ada sahabat yang mau memimpikan aku bersama Kim Heechul. Tapi aku terus bertanya-tanya. Tak kusangka, ternyata Jiwon juga memikirkan ini. Ternyata dia sama gilanya denganku. Hah… entah kebetulan atau tidak, setiap berjalan bersamanya terkadang kami dikira saudara kembar. Senang sekali mendengarnya, tapi saat ditanya aku selalu mnjawab, “Tidak mungkin aku mirip denganmu!”
***
                Suatu hari, aku tidak melihat Jiwon si sekitarku. Aku terus berjalan mengelilingi sekolahku. Di depan kelas 2B aku melihat Jiwon sedang bercarita bersama dengan seorang gadis. Terlihat pancaran senyum di wajahnya. Apa dia sudah melupakan aku ya? Dengan sedikit rasa kecewa aku kembali ke kelasku.


               Akupun mulai mendengarkan lagu lagi.. selama beberapa jam aku sendirian seperti ini. Aku mencoba menyenderkan kepalaku ke sudut dinding kelas. Aku benar-benar merasa kesepian. “Minhye-ah!”, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku dari kejauhan. “Jiwon?”, kataku dengan suara kecil. Iapun duduk di sampingku. ;karena kesal, akupun mengabaikan semua ucapannya. Tak lama kemudian Jiwon pun mengambil kotak pensil yang kuletakkan di meja. Dia melihat sebuah bintang biru disana. “Anchul”, katanya sambil tersenyum.tiba-tiba tanpa sengaja ia menjatuhkan bintang biru kesayanganku itu. Aku sangat marah. “ apa yang kau lakukan? Kau tahu itu sangat berarti bagiku! Mengapa kau menjatuhkannya?!”, kataku dengan suara keras. “Maafkan aku Minhye. Nanti aku cari sepulang sekolah”, kata Jiwon yang merasa bersalah. “Sudahlah! Orang seprtimu mana tahu arti sebuah barang!”, kataku sambil berdiri. Akupun melampiaskan semua kekesalanku padanya. Aku benar-benar merasa kesal. Mungkin karena dia telah mengabaikan aku tadi. Terasa sakit di bagian dada ini. Semakin lama semakin terasa. Terlebih saat melihatnya menangis. Hatiku seperti tertusuk-tusuk.
***
                Satu minggu telah berlalu. Akupun sudah tidak tahan dengan baying-bayang Jiwon yang terus mengintari pikiranku. Aku mencoba untuk meminta maaf kepadanya. Seperti biasa, dia duduk bersama teman wanitanya itu lagi di kelas 2B. Tawanya terdengar jelas dari kejauhan, seperti tidak ada masalah apapun. Akupun menunggunya hiangga kembali ke kelas. Saat mulai melangkahkan kaki menuju ke kelas dengan segera aku berlari menghampirinya. “Jiwon_ah!!!”, panggilku dari kejauhan. “Jiwon, aku benar-benar minta maaf. Mungkin aku sudah keterlaluan. Aku tahu aku egois. Aku benar-benar minta maaf”, kataku sambil memegang tangannya. “Sudahlah.. ini memang salahku. Aku tidak tahu kalau bintang itu sangat penting bagimu’, katanya sambil melepaskan tanganku darinya. “Jadi, apa sekarang kita berteman lagi?”, kataku. Jiwonpun mengangguk. Dengan gembira aku langsung memeluknya.
***
Esok harinya.
 Akupun berlari menghampiri Jiwon yang sedang duduk di depan kelas. Aku mencoba bercerita mengenai Super Junior padanya. Tidak biasanya, dia terlihat biasa saja. Aku seperti tidak mengenali Jiwon yang sekarang ini. Aku terus bercerita kepadanya, tapi dia terus mengabaikannku.
                Sejak saat itu Jiwon tidak menghampiriku lagi. Aku merasa kesepian lagi. Akupun duduk di lantai belakang kelasku. Tanpa kusadari air mata mengalir di pipiku. Aku merasa sangat menyesal. Aku sadar mungkin aku sudah sangat keterlaluan. Mungkin aku sangat kesal karena dia telah mengabaikanku. Selama berjam-jam aku duduk sendiri disana. Tida ada seseorangpun yang datang menghampiriku.
***
                Satu bulan lagi adalah hari ulang tahun Jiwon. Akupun mulai mengumpulkan hadiah yang akan kuberikan padanya. Selama itu aku terus menabung untuk membeli benda-benda kesenangannya. Setiap pulang sekolah aku selalu menyempatkan diri untuk membeli hadiah di toko. Sesampainya di rumah, aku langsung bergegas bersembunyi agar tidak terlihat ibuku. Ibuku selalu memarahiku saat ia melihatku membawa kado.
***


1 bulan kemudian
                Hari ini adalah hari ulang tahun Jiwon. Aku sudah menyiapkaan segalanya. Semunya sudah terencana dengan baik. Kebetulan, hari ini Jiwon mendapat tugas piket. Pulang sekolah nanti, aku akan memberi kejutan padanya.
***
Bel sekolahpun berbunyi. Ku langsung bersip-siap untuk menyiapkan segalanya. Jiwonpun pergi untuk membersihkan peralatan piket. Dengn segera aku masuk ke dalam kelas dan menyiapkan semuanya.
                 5 menit kemudain, Jiwonpun kembali. Akupun menyiapkan diri. Dengan sedikit kesulitan Jiwon membuka pintu. “Taaar-taaar-taaar”, bunyi balon yang pecah disertai dengan jatuhnya pinata. Jiwonpun menarik pinata itu dan mendapati kertas tergantung bertuliskan “Saengil Chukahaeyo, Jiwon”. Dengan segera aku membawa kue ulang tahun kearahnya. Dia terlihat terkejut. Diapun berdoa dan dengan perlahan meniup lilin. “Selamat Ulang Tahun, Jiwon!”, kataku sambil memberi sebuah kado padanya. “Gomawo”, katanya sambil tersenyum. Seperti biasa dia terlihat biasa saja. Tapi kali ini aku bingung, dia terlihat diam seperti sedang memikirkan sesuatu. “Jiwon, bolehkah aku memanggilmu kakak? Aku sangat ingin memanggilmu kakak”, kataku sambil memeluknya. “Ah, iya...”, katanya sambil melepaskan pelukanku. Setelah semuanya telah selesai, kamipun pulang bersama-sama. Aku haarap aku bisa menjadi adik yang baik untuknya.
***
1 bulan kemudian
                Pagi ini hujan mulai menunjukkankeberdaannya lagi. Seperti biasanya, aku duduk di depan kelas sambil mendengarkan lagu. Aku terduduk lemas. Aku tidak bisa seceria dulu. Jiwon yang sekarangpun tidak pernah kembali menjadi Jiwon yang dulu. “Kenapa Minhye?, kata seseorang yang mendekatiku dari arah belaakang. “Chasoo?”, Kataku terkejut. Chasoopun duduk di sampingku. “Waeyo, Minhye?, katanya. “Aniyeyo?”, kataku sambil menundukkan kepala. “Ah, ani... jangan bohong. Terlihat jelas di wajahmu... ceritakanlah”, kata Chasoo sambil memegang pundakku. “Mmmm, aku sedih... Jiwon yang sekarang tidak terlihat seperti Jiwon yang dulu. Dia seperti sudah tidak peduli padaku lgi. Jika dia teman yang baik, pasti dia tidak akan membiarkan aku sendiri. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku sudh berusaha. Aku sudah mencoba berbagai cara tetapi dia tetap tidak berubah. Aku anggap dia seperti cangkng tanpa jiwa. Tapi, akankah jiwanya itu kembali lagi?”, kataku sambil tertunduk lemas. “Aniyo... dia tidak akan melupakanmu. Mungkin dia sedang ada masalah sekarang. Percayalah....”, kata Chasoo yang berusaha menghiburku. Chasoopun berlalu. Aku mencoba berpikir kembali. “Apa aku terlalu banyak keinginan ya? Mungkin aku sudah terlalu banyak mengganggunya”, kataku dalam hati.
***

O duldoeomneun urisarang
eopdeonirijyo
bogosipda haedo dasin bolsu eopgetjyo
apado chamayagetjyo
(apado amureochi anheun cheok)
(nunmuri heulleodo gamchuneun beop) geudage nan bwara boneun nariga
(maeumhan jjok geugose namgyeonoko
amuil eopdaneundeusi utneun beop)
(heeojineun bangbeobijyo) ijeoyahaneunde
nae gadeukgoin nunmulmani neol
gieokhago
tto haengbokhaetdeon heunjeokdeuri
neomu manhaseo
naege sarangiran neomu
gaseum
apeunil apado chamayagetjyo
geureoke itgetjyo(The Way to Break up – Kyuhyun)

Jiwon Pov
                Di sudut ruang kelas, aku duduk sendiri sambil memandangi suasana luar. Tiba-tiba Chasoo, temanku datang menghampiriku. “Jiwon, apa terjadi sesuatu padamu?”, tanya Chasoo. “Ah, ani... “, kataku sambil tersenyum. “Ah... kau  bohong. Tadi Minhye cerita kepadaku. Dia bilang kalau kamu yang sekarang tidak terlihat seperti kamu yang dulu. Dia bingung, dia tidak tahu apa kesalahannya. Dia sudah berusaha melakukan apapun untukmu, tapi kau tidak pernah berubah. Weyo?”, tanyanya bingung. “Ah... benarkah? Anak itu... dia kekanak-kanakan sekai”, kataku sambil tersenyum. Terasa sakit sekali mendengarnya. Apa dia selalu berpikir seperti itu? Akupun mencoba bercerita kepada Chasoo unruk mengurangi kebingungan yang sedang melandaku.
***
                Bel sekolahpun berbunyi. Saat semuanya sudah pergi aku mencoba menghampiri Minhye yang sedang menjalankan tugas piketnya. “Minhye, apa mau aku bantu?”, kataku sambil meraih sapu dari tangannya. “Ah, tidak” kata Minhye sambil tersenyum dan berusaha untuk menarik sapu dari tanganku. Akupun mencoba mendekati dan meraihnya. Dengan perlahan aku mencoba memeluk dan menciumnya. “Jiwon! Cukup”, kata Minhye ketakutan. “Bukankah kau menginginkan ini?”, kataku sambil terus mendekatinya. “Jiwon-ah!”, kata Minhye sambil menangis. “Apa yang kau inginkan dariku? Apa kau menginginkan ini? Kau sungguh kekanak-kanakan! Kau sungguh aneh! Aku tidak tahu harus bagaimana menanggapimu!”, kataku dengan suara lantang. “Tidak eon. Bukan seperti itu... kau sengguh menakutkan. Itu membuatku takut. Aku hanya ingin kau menjadi kakakku. Apa itu salah? Mengapa kau tidak terlihat seperti dirimu yang dulu?”, kata Minhye sambil menangis terseduh-seduh. “Berhenti memanggiku kakak! Kau tahu? Kau terlihat sangat aneh! Sadarlah Minhye! Kau adalah teman teraneh yang pernah kukenal!”, kataku. “Mengapa kau selalu menganggapku aneh? Aku hanya ingin kau menjadi dirimu yang dulu...”, kata Minhye dengan suara getar. “Seperti apa? Kau ingin aku seperti apa? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu! Kau yang membuat semuanya menjadi seperti ini! Aku sudah lelah! Mulai sekarang jangan muncul di hadapanku lagi!”, kataku dengan suara keras. “Jadi.. Seperti itu?”, kata Minhye dengan suara getar. Minhyepun berlari ke arah luar sekolah. Tanpa kusadari akupun mengejarnya. Mungkin aku sudah merasa sedikit besalah. Dia telihat berlari menyebrangi jalan. Dengan cepat aku mengejarnya. “Tin-tin.. BRUKK”, Terdengar suara tabrakan dari arah depan. Aku melihat Minhye sudah tegeletak di tengah jalan. Dia terlihat berlumuran darah. Dengan gemetar aku melangkahkan kaki ke arahnya. “Minhye...”, ktaku yang terduduk lemas. “Minhye... jangan tinggalkan aku! Aku menyesal! Aku minta maaf! Aku hanya idak ingin kau terus sakit karena aku. Maafkan aku Minhye.... tolong.. jangan tinggalkan aku... aku berjanji, aku akan menjadi kakak yang baik untukmu... Jadi.. bukalah matamu Minhye... Minhyeeee!!!!”, kataku sambil menangis sekencang-kencangnya. Dengan baju yang berlumuran darah aku terus memeluk Minhye dengan erat. Semua orangpun berlari menghampiri kami. Hujanpun menyaksikan saat-saat terakhir Minhye.
***
1 bulan telah berlalu.. Seperti biasanya, sepulang sekolah aku menyempatkan diri untuk mengunjungi Minhye. Tapi kali ini Chasoo ikut bersamaku. “Annyeong haseyo, saengi. Bagaimana keadaanmu hari ini? Lihatlah Chasoo bersamaku disini”, kataku dengan suara getar. Tanpa kusadari air mataku mengalir membasahi wajahku. Semakin lama semakin deras mengalir. Chasoopun memelukku lalu memberiku sebuah bintang biru. “Ini...”, kataku bingung. “Ya... Minhye yang menitipkannya padaku. Dia Bilang, dia ingin kau menjaga itu”, kata Chasoo. “Minhye...”, kataku sambil membuka bintang biru tersebut. Terlihat selembar kertas tergulung disana. Akupun mengambilnya. Tertulis disana, “Minhye-Jiwon Everlasting Friend. Saranghae... aku harap saat kau membaca surat ini aku sudah tidak menggangumu lagi. Maaf, karena aku tidak bisa menjadi teman yang baik. Tetaplah tersenyum.. Teruslah bahagia... aku selalu melihatmu meski di dimensi yang berbeda sekalipun”. “Hiks...”, kataku sambil menangis. “Tik..tik...”, terdengar suara hujan. “Minhye..”, kataku sambil menadahkan tangan. Akupun beusaha tersenyum. Karena aku tahu, Minhye sedang memandangiku disana.

The End

*Plak!! Jangan  berpikiran yang macam-macam ya.. ini hanya cerita... dan di dalam cerita itu mereka ternyata salah paham... Terimakasih untuk yang sudah RCL. Jika ada kesamaan cerita, saya mohon maaf. Maaf... benar-benar maaf... semoga dengan ini saya bisa mengubur kenangan saya. Terimakasih atas segalanya...
Kijil!Kijil!Kijil!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar