FFcangkangtanpajiwabyHanHyewon@blogspot.comFFcangkangtanpajiwabyHanHyewon@gmail.com
Title : Shell without a soul
Genre : Sad
Cast : Lee Minhye
Kim Jiwon
Cho Chasoo
Minhye PoV
Hari ini adalah hari pertamaku di sekolah baruku, yaitu SMA Shinhwa.
Aku sendirian disini karena kakak-kakakku tidak bersekolah disini. Sedih
rasanya. Mengapa mereka harus meninggalkanku disini? Tapi, sudahlah...
pasti ada alasannya mengapa takdirku di temapatkan disini.
“Bosaaaaaaan!”, teriakku. “Aku tidak ingin sekolah disini! Aku ingin
kembali... Eon! Tolong aku!!!”, keluhku. Tanpa kusadari semua mata sudah
tertuju padaku. Inilah kebiasaan yang tidak bisa kuhindari. Aku sering
memalukan diriku sendiri.
***
Suatu hari. Seperti biasanya,
aku duduk sambil mendengarkan lagu sendirian. Semua orang didini membuka
forum meraka sendiri. Sungguh memuakkan! Akupun mulai mengingat
kejadian dulu, saat aku masih bias bersama dengan eonni-eonni
tersayangku. “Hiks”, kataku sambil menundukkan kepala. Tiba-tiba ada
seseorang yang dating padaku. Dia menawarkan secangkir kopi hangat
padaku. Aku bingung melihatnya. “apa orang ini indigo? Dari mana dia
bias tahu kalau saat ini aku sedang kedinginan?”, kataku dalam hati.
Dengan tampang bodoh aku terus memandanginya. Dengan mulut sedikit
ternganga aku terus bertanya-tanya dalam hati. “Hei! Sudahlah. Ambil
saja ini. Aku tahu cuaca di luar saat ini sangat dingin”, katanya.
“gleg”. Aku semakin shock melihatnya. Apa dia benar-benar tahu tenta apa
yang sedang aku pikirkan saat ini? Ah, sudahlah… Yang penting sekarang
aku bisa mendapat secangkir kopi hangat, gratisss!!!
Kamipun
saling memperkenalkan diri satu sama lain. Namanya Kim Jiwon. Dia
cantik, tinggi, baik, dan sudah pastinya pintar. Kamipun saling bertukar
cerita mengenai idolaku masing-masing. Saat mendengar ceritaku, dia
terlihat bingung. Apa dia tidak mengerti dengan apa yang aku bicarakan
ya? Ah! Sudahlah! Aku memang tidak bisa menahan mulutku ini. Satu hal
lagi yang tidak bisa kuhindari, yaitu saat bercerita mengenai Super
Junior. Aku seperti mobil tanpa kendali.
Semenjak saat itu kami
selalu bersama. Aku merasa nyaman saat bersamanya. Menyenangkan sekali.
Dengan sabarnya dia mau mendengar tangisanku, saat aku sedang merindukan
eonniku.
***
Apado amureochi anheun cheok
nunmuri heulleodo gamchuneun beop
maeumhan jjok geugose namgyeonoko
amuil eopdaneundeusi utneun beop
heeojineun bangbeop
maeumi ireoke tto jeomuljyo
sumanheun miryeondeul tto heomuljyo
dasi jiwogagetjyo adeukhaejigetjyo
uri seoro ijeogagetjyo
nae uimieomneun haruga tto
jinagagetjyo
o duldoeomneun urisarang
eopdeonirijyo
bogosipda haedo dasin bolsu eopgetjyo
apado chamayagetjyo
heeojineun bangbeobijyo
neoeomneun haruga iksukhajyo
naeireun jogeumdeo pyeonhagetjyo
jeomjeom ijeogagetjyo
eojjeom saenggangnagetjyo joheun
chueokdeulman namgetjyo
nae uimieomneun haruga tto
jinagagetjyo(The Way to Break up – Kyuhyun)
Pagi ini hujan kembali datang. Sebenarnya aku tidak begitu suka dengan
hujan. Tapi Jiwon sudah merubah segalanya. Bahkan sekarang aku sangat
menyukai hujan. Dengan Headphone yang terpasang di telingaku, aku
berjalan kesana-kemari untuk membersihkan ruang kelasku. Tiba-tiba Jiwon
datang mengagetkanku. “Minhye-ah! Aku punya berita bagus.”, katanya
dari kejauhan. “Benarkah? Apa?”, kataku sambil meletakkan sapu.
“semalam aku bermimpi kamu pacaran sama kim Heechul. Pertama-tama kita
lolos ikut audisi girlband. Kita berangkat ke seoul. Di seoul kita
bertemu dengan Super Junior dan diberikan kesempatan untuk konser
bersama mereka. Tak disangka, diakhir acara Heechul menembakmu”, kata
Jiwon dengan penuh semangat. “Jeongmal? Haaahhhh..”, kataku sambil
melompat-lompat. Seharian penuh aku terus tersenyum. Aku senang, ada
sahabat yang mau memimpikan aku bersama Kim Heechul. Tapi aku terus
bertanya-tanya. Tak kusangka, ternyata Jiwon juga memikirkan ini.
Ternyata dia sama gilanya denganku. Hah… entah kebetulan atau tidak,
setiap berjalan bersamanya terkadang kami dikira saudara kembar. Senang
sekali mendengarnya, tapi saat ditanya aku selalu mnjawab, “Tidak
mungkin aku mirip denganmu!”
***
Suatu hari,
aku tidak melihat Jiwon si sekitarku. Aku terus berjalan mengelilingi
sekolahku. Di depan kelas 2B aku melihat Jiwon sedang bercarita bersama
dengan seorang gadis. Terlihat pancaran senyum di wajahnya. Apa dia
sudah melupakan aku ya? Dengan sedikit rasa kecewa aku kembali ke
kelasku.
Akupun mulai mendengarkan lagu lagi.. selama beberapa jam aku
sendirian seperti ini. Aku mencoba menyenderkan kepalaku ke sudut
dinding kelas. Aku benar-benar merasa kesepian. “Minhye-ah!”, tiba-tiba
ada seseorang yang memanggilku dari kejauhan. “Jiwon?”, kataku dengan
suara kecil. Iapun duduk di sampingku. ;karena kesal, akupun mengabaikan
semua ucapannya. Tak lama kemudian Jiwon pun mengambil kotak pensil
yang kuletakkan di meja. Dia melihat sebuah bintang biru disana.
“Anchul”, katanya sambil tersenyum.tiba-tiba tanpa sengaja ia
menjatuhkan bintang biru kesayanganku itu. Aku sangat marah. “ apa yang
kau lakukan? Kau tahu itu sangat berarti bagiku! Mengapa kau
menjatuhkannya?!”, kataku dengan suara keras. “Maafkan aku Minhye. Nanti
aku cari sepulang sekolah”, kata Jiwon yang merasa bersalah. “Sudahlah!
Orang seprtimu mana tahu arti sebuah barang!”, kataku sambil berdiri.
Akupun melampiaskan semua kekesalanku padanya. Aku benar-benar merasa
kesal. Mungkin karena dia telah mengabaikan aku tadi. Terasa sakit di
bagian dada ini. Semakin lama semakin terasa. Terlebih saat melihatnya
menangis. Hatiku seperti tertusuk-tusuk.
***
Satu minggu telah berlalu. Akupun sudah tidak tahan dengan
baying-bayang Jiwon yang terus mengintari pikiranku. Aku mencoba untuk
meminta maaf kepadanya. Seperti biasa, dia duduk bersama teman wanitanya
itu lagi di kelas 2B. Tawanya terdengar jelas dari kejauhan, seperti
tidak ada masalah apapun. Akupun menunggunya hiangga kembali ke kelas.
Saat mulai melangkahkan kaki menuju ke kelas dengan segera aku berlari
menghampirinya. “Jiwon_ah!!!”, panggilku dari kejauhan. “Jiwon, aku
benar-benar minta maaf. Mungkin aku sudah keterlaluan. Aku tahu aku
egois. Aku benar-benar minta maaf”, kataku sambil memegang tangannya.
“Sudahlah.. ini memang salahku. Aku tidak tahu kalau bintang itu sangat
penting bagimu’, katanya sambil melepaskan tanganku darinya. “Jadi, apa
sekarang kita berteman lagi?”, kataku. Jiwonpun mengangguk. Dengan
gembira aku langsung memeluknya.
***
Esok harinya.
Akupun
berlari menghampiri Jiwon yang sedang duduk di depan kelas. Aku mencoba
bercerita mengenai Super Junior padanya. Tidak biasanya, dia terlihat
biasa saja. Aku seperti tidak mengenali Jiwon yang sekarang ini. Aku
terus bercerita kepadanya, tapi dia terus mengabaikannku.
Sejak saat itu Jiwon tidak menghampiriku lagi. Aku merasa kesepian
lagi. Akupun duduk di lantai belakang kelasku. Tanpa kusadari air mata
mengalir di pipiku. Aku merasa sangat menyesal. Aku sadar mungkin aku
sudah sangat keterlaluan. Mungkin aku sangat kesal karena dia telah
mengabaikanku. Selama berjam-jam aku duduk sendiri disana. Tida ada
seseorangpun yang datang menghampiriku.
***
Satu bulan lagi adalah hari ulang tahun Jiwon. Akupun mulai mengumpulkan
hadiah yang akan kuberikan padanya. Selama itu aku terus menabung untuk
membeli benda-benda kesenangannya. Setiap pulang sekolah aku selalu
menyempatkan diri untuk membeli hadiah di toko. Sesampainya di rumah,
aku langsung bergegas bersembunyi agar tidak terlihat ibuku. Ibuku
selalu memarahiku saat ia melihatku membawa kado.
***
1 bulan kemudian
Hari ini adalah hari
ulang tahun Jiwon. Aku sudah menyiapkaan segalanya. Semunya sudah
terencana dengan baik. Kebetulan, hari ini Jiwon mendapat tugas piket.
Pulang sekolah nanti, aku akan memberi kejutan padanya.
***
Bel
sekolahpun berbunyi. Ku langsung bersip-siap untuk menyiapkan
segalanya. Jiwonpun pergi untuk membersihkan peralatan piket. Dengn
segera aku masuk ke dalam kelas dan menyiapkan semuanya.
5 menit kemudain, Jiwonpun kembali. Akupun menyiapkan diri. Dengan
sedikit kesulitan Jiwon membuka pintu. “Taaar-taaar-taaar”, bunyi balon
yang pecah disertai dengan jatuhnya pinata. Jiwonpun menarik pinata itu
dan mendapati kertas tergantung bertuliskan “Saengil Chukahaeyo, Jiwon”.
Dengan segera aku membawa kue ulang tahun kearahnya. Dia terlihat
terkejut. Diapun berdoa dan dengan perlahan meniup lilin. “Selamat Ulang
Tahun, Jiwon!”, kataku sambil memberi sebuah kado padanya. “Gomawo”,
katanya sambil tersenyum. Seperti biasa dia terlihat biasa saja. Tapi
kali ini aku bingung, dia terlihat diam seperti sedang memikirkan
sesuatu. “Jiwon, bolehkah aku memanggilmu kakak? Aku sangat ingin
memanggilmu kakak”, kataku sambil memeluknya. “Ah, iya...”, katanya
sambil melepaskan pelukanku. Setelah semuanya telah selesai, kamipun
pulang bersama-sama. Aku haarap aku bisa menjadi adik yang baik
untuknya.
***
1 bulan kemudian
Pagi
ini hujan mulai menunjukkankeberdaannya lagi. Seperti biasanya, aku
duduk di depan kelas sambil mendengarkan lagu. Aku terduduk lemas. Aku
tidak bisa seceria dulu. Jiwon yang sekarangpun tidak pernah kembali
menjadi Jiwon yang dulu. “Kenapa Minhye?, kata seseorang yang
mendekatiku dari arah belaakang. “Chasoo?”, Kataku terkejut. Chasoopun
duduk di sampingku. “Waeyo, Minhye?, katanya. “Aniyeyo?”, kataku sambil
menundukkan kepala. “Ah, ani... jangan bohong. Terlihat jelas di
wajahmu... ceritakanlah”, kata Chasoo sambil memegang pundakku. “Mmmm,
aku sedih... Jiwon yang sekarang tidak terlihat seperti Jiwon yang dulu.
Dia seperti sudah tidak peduli padaku lgi. Jika dia teman yang baik,
pasti dia tidak akan membiarkan aku sendiri. Aku bingung, apa yang harus
aku lakukan. Aku sudh berusaha. Aku sudah mencoba berbagai cara tetapi
dia tetap tidak berubah. Aku anggap dia seperti cangkng tanpa jiwa.
Tapi, akankah jiwanya itu kembali lagi?”, kataku sambil tertunduk lemas.
“Aniyo... dia tidak akan melupakanmu. Mungkin dia sedang ada masalah
sekarang. Percayalah....”, kata Chasoo yang berusaha menghiburku.
Chasoopun berlalu. Aku mencoba berpikir kembali. “Apa aku terlalu banyak
keinginan ya? Mungkin aku sudah terlalu banyak mengganggunya”, kataku
dalam hati.
***
O duldoeomneun urisarang
eopdeonirijyo
bogosipda haedo dasin bolsu eopgetjyo
apado chamayagetjyo
(apado amureochi anheun cheok)
(nunmuri heulleodo gamchuneun beop) geudage nan bwara boneun nariga
(maeumhan jjok geugose namgyeonoko
amuil eopdaneundeusi utneun beop)
(heeojineun bangbeobijyo) ijeoyahaneunde
nae gadeukgoin nunmulmani neol
gieokhago
tto haengbokhaetdeon heunjeokdeuri
neomu manhaseo
naege sarangiran neomu
gaseum
apeunil apado chamayagetjyo
geureoke itgetjyo(The Way to Break up – Kyuhyun)
Jiwon Pov
Di sudut ruang kelas, aku duduk sendiri sambil memandangi suasana luar.
Tiba-tiba Chasoo, temanku datang menghampiriku. “Jiwon, apa terjadi
sesuatu padamu?”, tanya Chasoo. “Ah, ani... “, kataku sambil tersenyum.
“Ah... kau bohong. Tadi Minhye cerita kepadaku. Dia bilang kalau kamu
yang sekarang tidak terlihat seperti kamu yang dulu. Dia bingung, dia
tidak tahu apa kesalahannya. Dia sudah berusaha melakukan apapun
untukmu, tapi kau tidak pernah berubah. Weyo?”, tanyanya bingung. “Ah...
benarkah? Anak itu... dia kekanak-kanakan sekai”, kataku sambil
tersenyum. Terasa sakit sekali mendengarnya. Apa dia selalu berpikir
seperti itu? Akupun mencoba bercerita kepada Chasoo unruk mengurangi
kebingungan yang sedang melandaku.
***
Bel
sekolahpun berbunyi. Saat semuanya sudah pergi aku mencoba menghampiri
Minhye yang sedang menjalankan tugas piketnya. “Minhye, apa mau aku
bantu?”, kataku sambil meraih sapu dari tangannya. “Ah, tidak” kata
Minhye sambil tersenyum dan berusaha untuk menarik sapu dari tanganku.
Akupun mencoba mendekati dan meraihnya. Dengan perlahan aku mencoba
memeluk dan menciumnya. “Jiwon! Cukup”, kata Minhye ketakutan. “Bukankah
kau menginginkan ini?”, kataku sambil terus mendekatinya. “Jiwon-ah!”,
kata Minhye sambil menangis. “Apa yang kau inginkan dariku? Apa kau
menginginkan ini? Kau sungguh kekanak-kanakan! Kau sungguh aneh! Aku
tidak tahu harus bagaimana menanggapimu!”, kataku dengan suara lantang.
“Tidak eon. Bukan seperti itu... kau sengguh menakutkan. Itu membuatku
takut. Aku hanya ingin kau menjadi kakakku. Apa itu salah? Mengapa kau
tidak terlihat seperti dirimu yang dulu?”, kata Minhye sambil menangis
terseduh-seduh. “Berhenti memanggiku kakak! Kau tahu? Kau terlihat
sangat aneh! Sadarlah Minhye! Kau adalah teman teraneh yang pernah
kukenal!”, kataku. “Mengapa kau selalu menganggapku aneh? Aku hanya
ingin kau menjadi dirimu yang dulu...”, kata Minhye dengan suara getar.
“Seperti apa? Kau ingin aku seperti apa? Aku tidak mengerti dengan jalan
pikiranmu! Kau yang membuat semuanya menjadi seperti ini! Aku sudah
lelah! Mulai sekarang jangan muncul di hadapanku lagi!”, kataku dengan
suara keras. “Jadi.. Seperti itu?”, kata Minhye dengan suara getar.
Minhyepun berlari ke arah luar sekolah. Tanpa kusadari akupun
mengejarnya. Mungkin aku sudah merasa sedikit besalah. Dia telihat
berlari menyebrangi jalan. Dengan cepat aku mengejarnya. “Tin-tin..
BRUKK”, Terdengar suara tabrakan dari arah depan. Aku melihat Minhye
sudah tegeletak di tengah jalan. Dia terlihat berlumuran darah. Dengan
gemetar aku melangkahkan kaki ke arahnya. “Minhye...”, ktaku yang
terduduk lemas. “Minhye... jangan tinggalkan aku! Aku menyesal! Aku
minta maaf! Aku hanya idak ingin kau terus sakit karena aku. Maafkan aku
Minhye.... tolong.. jangan tinggalkan aku... aku berjanji, aku akan
menjadi kakak yang baik untukmu... Jadi.. bukalah matamu Minhye...
Minhyeeee!!!!”, kataku sambil menangis sekencang-kencangnya. Dengan baju
yang berlumuran darah aku terus memeluk Minhye dengan erat. Semua
orangpun berlari menghampiri kami. Hujanpun menyaksikan saat-saat
terakhir Minhye.
***
1 bulan telah berlalu.. Seperti
biasanya, sepulang sekolah aku menyempatkan diri untuk mengunjungi
Minhye. Tapi kali ini Chasoo ikut bersamaku. “Annyeong haseyo, saengi.
Bagaimana keadaanmu hari ini? Lihatlah Chasoo bersamaku disini”, kataku
dengan suara getar. Tanpa kusadari air mataku mengalir membasahi
wajahku. Semakin lama semakin deras mengalir. Chasoopun memelukku lalu
memberiku sebuah bintang biru. “Ini...”, kataku bingung. “Ya... Minhye
yang menitipkannya padaku. Dia Bilang, dia ingin kau menjaga itu”, kata
Chasoo. “Minhye...”, kataku sambil membuka bintang biru tersebut.
Terlihat selembar kertas tergulung disana. Akupun mengambilnya. Tertulis
disana, “Minhye-Jiwon Everlasting Friend. Saranghae... aku harap saat
kau membaca surat ini aku sudah tidak menggangumu lagi. Maaf, karena aku
tidak bisa menjadi teman yang baik. Tetaplah tersenyum.. Teruslah
bahagia... aku selalu melihatmu meski di dimensi yang berbeda
sekalipun”. “Hiks...”, kataku sambil menangis. “Tik..tik...”, terdengar
suara hujan. “Minhye..”, kataku sambil menadahkan tangan. Akupun beusaha
tersenyum. Karena aku tahu, Minhye sedang memandangiku disana.
The End
*Plak!!
Jangan berpikiran yang macam-macam ya.. ini hanya cerita... dan di
dalam cerita itu mereka ternyata salah paham... Terimakasih untuk yang
sudah RCL. Jika ada kesamaan cerita, saya mohon maaf. Maaf...
benar-benar maaf... semoga dengan ini saya bisa mengubur kenangan saya.
Terimakasih atas segalanya...
Kijil!Kijil!Kijil!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar